SELAMAT DATANG


SELAMAT DATANG.... SEMOGA SUKSES ....


Pesan Sponsor


Demi Penyempurnaan Blog Ini....
Mohon Tinggalkan Komentarnya....




Jumat, 10 Agustus 2012

Contoh Proposal Perpustakaan 3


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Program kerja perpustakaan ini merupakan acuan, pedoman dan rencana untuk 1 tahun. Program kerja ini diharapkan dapat menjadi titik awal kemajuan perpustakaan SDN 005 Nunukan. Peran serta semua pihak sangat berpengaruh pada realisasi program ini. Karenanya, diharpkan semua pihak dapat terlibat baik secara langsung maupun tidak lagsung dalam rangka merealisasikan berbagai program yang telah dibuat.

Contoh Proposal Perpustakaan 2


BAB II
PERPUSTAKAAN SEKOLAH
SDN 005 NUNUKAN

A. Pengertian Perpustakaan Sekolah
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia perpustakaan          adalah kumpulan-kumpulan buku-buku (bacaan).         Encyclopaedia Britaninnca tahun 1969 volume 3 menyatakan bahwa perpustakan adalah suatu koleksi dari pada bahan-bahan tertulis, tercetak atau grafis lainya.

Sabtu, 04 Agustus 2012

Contoh Proposal Pengadaan Buku Perpustakaan (1)


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang tergabung pada sebuah sekolah, dikelola sepenuhnya oleh sekolah yang bersangkutan dengan tujuan usaha membantu sekolah untuk mencapai tujuan khusus sekolah dan tujuan pendidikan pada umumnya … (Sulistyo Basuki, 1993). Di samping itu dalam penjelasan Undang-undang Pendidikan Nasional kita, di sebutkan bahwa salah satu sumber belajar di sekolah yang amat penting tetapi bukan satu satunya adalah perpustakaan. Sebagai salah satu sumber belajar di sekolah perpustakaan membantu tercapainya visi dan misi sekolah tersebut. 

Urgensi Pendidikan Karakter


Tulisan ini berdasarkan tulisan Prof . Suyanto Ph.D dalam artikel berjudul "Urgensi Pendidikan Karakter"

KARAKTER adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.

Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.

Minggu, 01 Januari 2012

Proposal PTK IPS


BAB I   
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut kodratnya manusia adalah makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya....

Kamis, 24 November 2011

Sejarah Lahirnya PGRI

Kupersembahkan dalam rangka HUT PGRI Tahun 2011, untuk Pengurus PGRI Nunukan,.... Bravo PGRI, ... Hidup Guru.... mari kita majukan pendidikan yang bermartabat !!!

Sejarah Lahirnya PGRI


PGRI lahir pada 25 November 1945, setelah 100 hari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Cikal bakal organisasi PGRI adalah diawali dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) tahun 1912, kemudian berubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) tahun 1932.
Semangat kebangsaan Indonesia telah lama tumbuh di kalangan guru-guru bangsa Indonesia. Organisasi perjuangan huru-guru pribumi pada zaman Belanda berdiri tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB).
Organisasi ini bersifat unitaristik yang anggotanya terdiri dari para Guru Bantu, Guru Desa, Kepala Sekolah, dan Penilik Sekolah. Dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda mereka umumnya bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua.
Sejalan dengan keadaan itu maka disamping PGHB berkembang pula organisasi guru bercorak keagamaan, kebangsaan, dan yang lainnya.
Kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan yang sejak lama tumbuh mendorong para guru pribumi memperjuangkan persamaan hak dan posisi dengan pihak Belanda. Hasilnya antara lain adalah Kepala HIS yang dulu selalu dijabat orang Belanda, satu per satu pindah ke tangan orang Indonesia. Semangat perjuangan ini makin berkobar dan memuncak pada kesadaran dan cita-cita kesadaran. Perjuangan guru tidak lagi perjuangan perbaikan nasib, tidak lagi perjuangan kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi telah memuncak menjadi perjuangan nasional dengan teriak “merdeka.”
Pada tahun 1932 nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Perubahan ini mengejutkan pemerintah Belanda, karena kata “Indonesia” yang mencerminkan semangat kebangsaan sangat tidak disenangi oleh Belanda. Sebaliknya, kata “Indonesia” ini sangat didambakan oleh guru dan bangsa Indonesia.
Pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang, sekolah ditutup, Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitas.
Semangat proklamasi 17 Agustus 1945 menjiwai penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24 – 25 November 1945 di Surakarta. Melalaui kongres ini, segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku, sepakat dihapuskan.  Mereka adalah – guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan  Republik Indonesia yang baru dibentuk. Mereka bersatu untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di dalam kongres inilah, pada tanggal 25 November 1945 – seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan.
Dengan semangat pekik “merdeka” yang bertalu-talu, di tangan bau mesiu pemboman oleh tentara Inggris atas studio RRI Surakarta, mereka serentak bersatu untuk mengisi kemerdekaan dengan tiga tujuan :
1.    Memepertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia;
2.    Mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dengan dasar-dasar kerakyatan;
3.    Membela hak dan nasib buruh umumnya, guru pada khususnya.
Sejak Kongres Guru Indonesia itulah, semua guru Indonesia menyatakan dirinya bersatu di dalam wadah  Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
Jiwa pengabdian, tekad perjuangan dan semangat persatuan dan kesatuan PGRI yang dimiliki secara historis terus dipupuk dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan negara kesatuan republik Indonesia. Dalam rona dan dinamika politik yang sangat dinamis, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tetap setia dalam pengabdiannya sebagai organisasi perjuangan, organisasi profesi, dan organisasi ketenagakerjaan, yang bersifat unitaristik, independen, dan tidak berpolitik praktis.
Untuk itulah, sebagai penghormatan kepada guru, pemerintah Republik Indonesia dengan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, menetapkan hari lahir PGRI tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional, dan diperingati setiap tahun.
Semoga PGRI, guru, dan bangsa Indonesia tetap jaya dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tulisan ini adalah Teks resmi yang dikeluarkan oleh Pengurus Besar PGRI, untuk dibaca pada upacara memperingati HUT PGRI dan Hari Guru Nasional, 25 November 2008.

Rabu, 03 Agustus 2011

Tata Cara Berwudhu


Tata Cara Wudhu 

A. Pengertian Wudhu
Wudhu adalah kegiatan bersuci untuk menghilangkan hadas kecil dengan menggunakan air bersih. Anggota badan yang disucikan adalah wajah, kedua tangan kepala (rambut)dan kedua kaki,[1] dengan cara yang ditentukan.

B. Tata Cara Wudhu
Seluruh umat Islam sepakat bahwa Wudhu disyari’atkan dalam Islam, sejak masa Rasulullah saw, hingga sekarang. Karena itu wudhu adalah hal penting yang tak terpisahkan dari agama. Adapun tata cara berwudhu yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, sebagai berikut:
 
1. Membaca Basmalah.[2]
"Bismillaahir-rahmaanir-rahiim"
(Atas nama Allah, Maha Pemurah, Maha Pengasih)
2. Mengikhlaskan niat karena Allah[3]. Niat adalah murni pekerjaan hati, maka tidak perlu diucapkan, karena mengucapkan niat tidak disyari’atkan dalam agama[4].
3. Membasuh kedua telapak tangan sebanyak tiga kali.[5]
4. Kemudian berkumurlah, sambil menghirup air ke hidung kemudian menyemburkannya kembali sebanyak tiga kali.[6]

5. Membasuh wajah,[7] sebanyak tiga kali dengan mengusap kedua sudut mata.[8] Bagi yang berjenggot dituntun untuk menyela-nyelainya.[9]
6. Membasuh kedua tangan hingga sikut,[10] dimulai dari kanan dan digosok sebanyak tiga kali.[11]
7. Mengusap Kepala[12] dari permulaan kepala dengan menjalankan kedua tangan sampai tengkuk di bagian belakang lalu mengem-balikannya lagi kemuka.[13]
8. Kemudian mengusap telinga, dengan memasukkan jari telunjuk kedalam dua lubang telinga dan dua ibu jari mengusap punggung kedua telinganya. Mengusap telinga dilakukan langsung setelah mengusap kepala, cukup sekali saja.[14]
9. Basulah kedua kakimu beserta kedua mata kaki[15] dengan menggosoknya sampai ketumit[16] dan sela-sela jari sebanyak tiga kali.
10. Setelah itu ditutup dengan membaca do’a:
“Asyhadu allaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna Muhammadan abduhuu wa rasuuluh”.
(Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang haq kecuali Allah, dan tiada sekutu bagiNya. Saya bersaksi, bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya).[17]
 
C. Landasan Dalil:
[1] Qs. al-Ma’idah [5] : 6
[2] HR. al-Nasa’i; sunan (Thaharah: 77) dan Ibn Khudzaimah, dari Anas ra. Hadits ini memiliki banyak jalur sehingga saling menguatkan satu sama lainnya dan dapat dipakai sebagai hujah.
[3] HR. al-Bukhari dalam kitab Shahih al-Bukhari di tujuh tempat (Bad'u al-Wahy, 1; al-Iman, 52; al-'Itq, 2344; al-Manaqib, 3609; al-Aiman wa al-Nudzur, 6195; al-Hiyal, 6439; an-Nikah, 6482), Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim di 2 tempat (al-Imarah, 3530; Fadha-il al-jiha-d, 1571), An-Nasaiy dalam kitab Sunan an-Nasaiy di 3 tempat (ath-Thaharah, 74; Thalaq, 3383; al-Aiman wa an-Nudzur, 3734), Abu Dawud dalam kitab Sunannya (ath-Thalaq, 1882), Ibn Majah dalam kitab Sunannya (Zuhd, 4217), dan Ahmad ibn Hanbal (Musnad Ahmad, 163 dan 283). Hadits ini berkualitas shahih lidzatihi dan dapat dipergunakan sebagai hujjah.
[4] Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah I (Jakarta, Pena Pundi Aksara, 2008), h. 41-42
[5] HR. Bukhariy, Shahih (Wudhu: 155 dan 159, Shaum: 1798, Riqaq: 5953), Muslim (Thaharah: 331 dan 332), al-Nasaiy, Sunan (Thaharah: 83 dan 84), Abu Dawud, Sunan (Thaharah: 96 dan 97), dan al-Darimiy, Sunan (Thaharah: 690). Hadits ini berkualitas shahih lidzatihi dan dapat dipergunakan sebagai hujjah.
[6] HR. Bukhariy, shahih (Wudhu: no. 155 dan 159, Shaum: no. 1798, Riqaq: no, 5953), Muslim , shahih (Thaharah: no. 331 dan no. 332), dari Humran. Selain itu pula diriwayatkan oleh Abu Dawud (Sunan, 99). Dengan lafal berbeda tetapi memiliki makna yang sama diriwayatkan oleh Nasaiy (Sunan, 91, 92, 93, 94, 95, 114), Tirmidzi (Sunan, 45), Ahmad ibn Hanbal (Musnad (830,995, 1078, 1279, 1285, 1308), dan al-Darimiy (Sunan, 696). Hadits ini berkualitas shahih lidzatihi sehingga dapat dipakai sebagai hujjah.
[7] Qs. Al-Ma’idah [5] : 6
[8] HR. Abu Dawud, sunan (Thaharah, 115) dan Ibn, Majah, sunan (Thaharah, 438). Kualitas hadits ini adalah hasan lidzatihi sehingga dapat digunakan sebagai hujjah.
[9] HR. Tirmidzi, sunan (Thaharah, 31); dan Ibn Majah, sunan (Thaharah, 148), dengan kualitas shahih sehingga dapat pakai sebagai hujjah.
[10] Qs. Al-Ma’idah [5] : 6
[11] HR. Ahmad (Musnad, 15846). Dalam jalur-sanadnya, hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud al-Thayyalisiy, Syu'bah, Habib ibn Zaid, 'Abbad ibn Tamim 'Abdullah ibn Zaid ibn 'Ashim. Semua rawi dalam sanad tersebut adalah orang-orang siqqah. Dengan demikian, hadis ini berkualitas shahih lidzatihi.
[12] Qs. Al-Ma’idah [5] : 6
[13] HR. Bukhari, Shahih al-Bukhari (Wudhu: 179), Tirmidzi Sunan (Thaharah: 30), Nasaiy Sunan, (Thaharah: 96, 97), Abu Dawud, Sunan (Thaharah: 103), Ibn Majah Sunan (Thaharah: 428), Ahmad ibn Hanbal (Musnad, 15836, 15843), dan Malik (Muwaththa', Thaharah: 29). Hadits ini berkualitas shahih dan dapat dipergunakan sebagai hujjah.
[14] HR. Abu Dawud, sunan (Thaharah: 116) dan al-Nasa’i, sunan (Thaharah : 101). Hadits ini berkualitas shahih lidzatihi dan dapat dipergunakan sebagai hujjah.
[15] Qs. Al Ma’idah [5] : 6
[16] HR. Bukhari, Shahih (58, 94, 158, 160); Muslim, , shahih (353, 354, 355, 356, 358Tirmidzi, Nasaiy, Ibn Majah, Ahmad ibn hanbal dan al-Darimiy), Sunan al-Tirmidzi (39), Sunan al-Nasaiy (110), Sunan Ibn Majah (444, 446, 448),Musnad Ahmad ibn hanbal (6518, 6519, 6681, 6806, 6825, 8482, 8685, 8897, 8936, 9186, 9642, 9858, 13873, 14963, 22506, 23375, 23403, 23537, 24411, 25017), dan Sunan al-Darimiy (700,701). Hadits ini berkualitas shahih dan dapat dipergunakan sebagai hujjah.
[17] HR. Muslim, shahih (Thaharah: 345)dan Ahmad Ibn Hambal (Musnad IV, 145). Hadits ini berkualitas shahih  dan dapat dipergunakan sebagai hujjah.